Warta NusantaraWarta & Analisis Mingguan
Catatan · Minggu ke-28

Brent Rebound ke US$76: Tensi Hormuz Kembali, OPEC+ Setujui Tambahan 188 Ribu Barel per Hari untuk Agustus

Dengarkan artikel
Konteks

Sejak akhir Februari 2026, konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran mengguncang pasar energi dunia karena mengancam Selat Hormuz, jalur sempit di Teluk yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global. Harga minyak Brent yang semula sekitar 70 dolar AS per barel sempat melonjak mendekati 115 dolar AS pada awal Mei, lalu turun bertahap setelah memorandum gencatan senjata AS-Iran ditandatangani 17 Juni. Kelompok produsen OPEC+ pada saat yang sama terus menaikkan produksi bulanan untuk merebut kembali pangsa pasar setelah bertahun-tahun memangkas pasokan. Pekan 6-12 Juli 2026 menghadirkan kombinasi keduanya: serangan baru di Hormuz mengangkat Brent kembali ke kisaran 75-76 dolar AS, sementara OPEC+ menyetujui tambahan produksi 188 ribu barel per hari untuk Agustus. Bagi Indonesia sebagai importir minyak, ayunan harga seperti ini berdampak langsung pada APBN, subsidi energi, dan biaya pengadaan BBM.

Foto: NASA MODIS via Wikimedia Commons

Harga minyak Brent berbalik menguat ke kisaran 75-76 dolar AS per barel pada pekan yang berakhir 10 Juli 2026, mencatat kenaikan mingguan sekitar 4,7 persen setelah empat minggu berturut-turut tertekan. Pemicunya ketegangan baru antara AS dan Iran yang kembali mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia. Brent menembus 76 dolar AS untuk pertama kalinya dalam dua pekan setelah serangan terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz memicu respons militer Amerika Serikat terhadap Iran, sekaligus mengancam gencatan senjata rapuh yang baru berjalan beberapa pekan.

Eskalasi ini tidak berhenti di ranah militer. Washington juga mencabut keringanan sanksi sementara atas minyak Iran yang semula berlaku hingga 21 Agustus, langkah yang menutup salah satu katup pasokan dan menambah premi risiko di pasar. Rebound pekan ini membalik narasi bulan sebelumnya, ketika pemulihan pelayaran Hormuz menghapus premi perang dan menekan Brent hingga menyentuh 72 dolar AS. Bahkan pada awal pekan, 6 Juli, Brent sempat turun ke sekitar 71 dolar AS, level terendah sejak konflik pecah akhir Februari, sebelum berbalik arah tajam. Dalam sebulan terakhir harga minyak mentah masih tercatat turun lebih dari 18 persen, namun tetap sekitar 4 persen di atas level tahun lalu.

Ayunan Ekstrem dalam Lima Bulan

Rentang pergerakan tahun ini menggambarkan betapa sensitifnya pasar terhadap dinamika Teluk. Sebelum konflik AS-Iran meletus, Brent bergerak di kisaran 70 dolar AS per barel, lalu melonjak hingga sekitar 115 dolar AS pada awal Mei ketika gangguan Hormuz mencapai puncaknya. Memorandum gencatan senjata yang ditandatangani 17 Juni, dengan masa negosiasi 60 hari menuju kesepakatan nuklir jangka panjang, sempat menurunkan harga secara bertahap. Namun pelanggaran sporadis terus terjadi, dan pekan ini membuktikan premi risiko dapat kembali hanya dalam hitungan hari.

Lalu lintas pelayaran di Hormuz sendiri belum pulih penuh. Pada masa damai selat ini dilalui sekitar 130-140 kapal per hari, dan volume saat ini masih jauh di bawah level pra-konflik meski tren pemulihan berjalan sebelum insiden terbaru.

OPEC+ Tetap Menambah Pasokan

Di tengah volatilitas itu, OPEC+ menyetujui kenaikan produksi sekitar 188 ribu barel per hari untuk Agustus, melanjutkan strategi normalisasi pasokan yang dimulai sejak kuartal kedua. Ini kenaikan bulanan kelima berturut-turut sejak kelompok produsen mulai melepas pemangkasan produksi era 2023. Kenaikan kuota dibagi di antara Arab Saudi, Irak, Kuwait, Oman, Aljazair, Rusia, dan Kazakhstan.

Uni Emirat Arab mencatatkan produksi mentah tertinggi dalam sejarahnya bulan lalu, dengan output Juni menembus 3,8 juta barel per hari, menegaskan upaya produsen Teluk menjaga ekspor di tengah ketidakpastian jalur pelayaran. Sebagian besar ekspor UEA juga dapat memanfaatkan pelabuhan Fujairah yang berada di luar Hormuz, keunggulan infrastruktur yang membuat Abu Dhabi lebih leluasa menaikkan produksi dibanding produsen Teluk lain.

Badan Energi Internasional mengingatkan bahwa ketegangan yang berkepanjangan dapat menunda pemulihan inventori minyak global dan mengganggu keseimbangan pasar yang diproyeksikan. Di sisi lain, sejumlah pedagang justru mencemaskan skenario sebaliknya: bila gencatan senjata bertahan dan Hormuz pulih penuh, tambahan pasokan OPEC+ yang terus mengalir berisiko menciptakan kelebihan pasokan pasca-konflik yang menekan harga lebih dalam.

Bacaan untuk Indonesia

Bagi Indonesia, kombinasi Brent di kisaran 75 dolar AS dan pasokan OPEC+ yang bertambah adalah skenario yang relatif dapat dikelola untuk APBN dan harga BBM domestik. Asumsi harga minyak dalam APBN masih memiliki ruang aman pada level ini, sementara tekanan terhadap subsidi energi belum sampai pada titik yang memaksa penyesuaian harga di dalam negeri. Risiko utamanya tetap di sisi volatilitas: selama transisi kepemimpinan Iran belum terkonsolidasi dan negosiasi nuklir 60 hari belum menghasilkan kesepakatan permanen, premi risiko Hormuz akan datang dan pergi dalam siklus mingguan.

Pemerintah dan Pertamina perlu mempertahankan buffer stok dan fleksibilitas kontrak pengadaan, karena jendela harga rendah seperti akhir Juni terbukti bisa tertutup dalam hitungan hari. Diversifikasi sumber impor minyak mentah dan produk, termasuk dari pemasok di luar jalur Hormuz, layak dipercepat sebagai asuransi struktural. Pada saat yang sama, episode ini kembali menegaskan urgensi agenda jangka panjang: penguatan cadangan penyangga energi nasional dan percepatan bauran energi domestik agar ketahanan energi Indonesia tidak terus bergantung pada stabilitas satu selat sempit di Teluk.

Sumber: Al Jazeera, Al-Monitor, CNBC, Pipeline and Gas Journal, IEA

Baca Juga