Iran memakamkan Ali Khamenei di Mashhad, kota paling suci di negeri itu sekaligus kota kelahirannya, pada 9 Juli 2026. Jenazah dikebumikan di kompleks Makam Imam Reza, situs ziarah Syiah terpenting di Iran, setelah rangkaian prosesi hampir sepekan yang melintasi Tehran, Qom, serta kota suci Karbala dan Najaf di Irak. Hingga 20 juta orang diperkirakan mengikuti rangkaian prosesi di Tehran, salah satu mobilisasi publik terbesar dalam sejarah Republik Islam. Media Iran menyebut total pelayat di seluruh rangkaian melampaui 15 juta orang, dengan sekitar 12 juta di antaranya memadati prosesi di ibu kota.
Ini kali kedua dalam hampir lima dekade Republik Islam memakamkan seorang pemimpin tertinggi, setelah pemakaman Ruhollah Khomeini pada 1989. Khamenei tewas dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menghantam kompleks kediamannya di pusat Tehran, peristiwa yang memicu perang terbuka antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pemakaman yang tertunda lebih dari empat bulan mencerminkan situasi keamanan yang belum sepenuhnya pulih pascaperang.
Prosesi Sepekan dari Tehran ke Mashhad
Rangkaian penghormatan dimulai pada 4 Juli ketika jenazah disemayamkan di kompleks Grand Mosalla, Tehran. Prosesi utama sejauh sekitar 10 kilometer menuju Lapangan Azadi digelar pada 6 Juli, disusul persinggahan di kota suci Qom, lalu penyeberangan ke Irak untuk prosesi di Najaf dan Karbala pada 8 Juli. Pesawat pembawa jenazah mendarat di Mashhad sekitar pukul 10.00 waktu setempat pada 9 Juli. Kepadatan massa di Jalan Imam Reza begitu tinggi sehingga peti jenazah Khamenei dan empat anggota keluarganya harus dipindahkan dengan helikopter menuju kompleks makam.
Delegasi jaringan sekutu regional Iran hadir dalam pemakaman, termasuk perwakilan Hamas dan Jihad Islam dari Gaza, Hizbullah dari Lebanon, serta Houthi dari Yaman. Suasana prosesi diwarnai seruan balas dendam dari massa, termasuk yel-yel yang ditujukan kepada Presiden AS Donald Trump. Kehadiran jaringan proksi ini menegaskan bahwa poros yang dibangun Khamenei selama tiga dekade lebih masih berfungsi sebagai instrumen politik, sekurang-kurangnya pada level simbolik.
Pemimpin yang Tidak Terlihat
Majelis Ahli memilih Mojtaba Khamenei, putra mendiang, sebagai pemimpin tertinggi baru pada 8-9 Maret melalui mekanisme dewan sementara tiga anggota berdasarkan Pasal 111 konstitusi. Namun hingga pemakaman ayahnya, Mojtaba belum sekali pun terlihat atau terdengar di ruang publik, meski posternya terpasang di seluruh Tehran. Ia bahkan tidak hadir dalam prosesi pemakaman di Mashhad, absen yang kian menajamkan pertanyaan tentang kondisi kesehatannya dan siapa sesungguhnya yang mengendalikan negara.
Sejumlah laporan menyebut Mojtaba terluka serius dalam serangan 28 Februari yang menewaskan ayahnya, dan serangan itu juga merenggut nyawa ibu serta istrinya. Pemerintah Iran belakangan mengonfirmasi bahwa ia mengalami luka akibat serangan udara. Sejak menjabat, komunikasi Mojtaba dengan publik hanya berlangsung lewat pernyataan tertulis, dimulai dari pesan pertama pada 12 Maret yang menjanjikan pembalasan bagi para syuhada. Pernyataan-pernyataannya dibacakan di televisi nasional, dan rezim dilaporkan sempat menggunakan video hasil kecerdasan buatan untuk menampilkan sosoknya menyampaikan pesan. Absennya pemimpin baru pada momen simbolik sebesar pemakaman ini memunculkan spekulasi soal keamanan pribadinya dan soliditas dukungan internal.
Perang telah merenggut lebih dari 50 pejabat senior politik dan militer, membentuk ulang lanskap kepemimpinan Iran. Analis Washington Post menggambarkan rezim yang muncul dari perang sebagai lebih muda, lebih lihai, dan lebih keras garis. Sebagian pengamat justru menilai ketidaktampakan Mojtaba selama ini membantu rezim bertahan, karena tidak ada satu figur yang menjadi sasaran tunggal, baik bagi serangan militer lawan maupun bagi ketidakpuasan publik di dalam negeri.
Arah Transisi dan Dampak Kawasan
Konsolidasi internal rezim baru menjadi variabel kunci bagi stabilitas kawasan. Kemunculan publik pertama Mojtaba akan menjadi penanda fase transisi berikutnya: apakah ia tampil sebagai figur pemersatu atau sekadar simbol yang dikendalikan koalisi keamanan di belakangnya. Selama sosok pemimpin tertinggi hanya hadir lewat teks, keputusan strategis Iran, dari negosiasi nuklir hingga pengelolaan jaringan proksi, akan terus dibaca pasar dan kanselir asing sebagai produk kolektif elite keamanan, bukan kehendak satu orang.
Bagi Indonesia, dampak paling nyata tetap pada jalur energi. Ketegangan yang kembali muncul di Selat Hormuz pekan ini mengangkat Brent sekitar 4,7 persen, pengingat bahwa transisi Iran yang belum selesai adalah premi risiko permanen bagi importir energi. Kestabilan pasokan minyak dan keselamatan pelayaran niaga di koridor Teluk menyangkut kepentingan langsung Jakarta, sehingga arah konsolidasi Tehran pantas dipantau bukan sebagai urusan kawasan yang jauh, melainkan sebagai variabel harga energi dan inflasi domestik.
Sumber: Al Jazeera, Haaretz, CNN, Iran International, The Jerusalem Post, The National