Warta NusantaraWarta & Analisis Mingguan
Pojok Aspirasi · Esai

Ketika Tanaman Menjadi Alat Kuasa: Kebun Raya Bogor dan Wajah Halus Imperialisme

Kebun Raya Bogor kita kenal sebagai ruang teduh. Sejarawan Luthfi Adam menunjukkan sisi lain: sebuah mesin halus imperialisme, tempat tanaman diubah menjadi kekuasaan.

Dengarkan artikel

Bagi kebanyakan dari kami, Kebun Raya Bogor adalah tempat berteduh di akhir pekan: pohon-pohon raksasa, rumput luas, udara yang lebih sejuk dari Jakarta. Namun dalam sebuah diskusi panjang di program Chronicles, sejarawan Luthfi Adam mengajak kami memandangnya dengan cara yang lebih tidak nyaman. Kebun ini pernah menjadi salah satu mesin paling canggih dari imperialisme, sebuah tempat di mana tanaman diam-diam diubah menjadi kekuasaan.

Sebuah kebun yang bukan sekadar kebun

Kebun yang lahir sebagai 's Lands Plantentuin te Buitenzorg pada 1817 itu bukanlah sekadar taman keindahan. Gagasan pendiriannya diajukan oleh Caspar Georg Carl Reinwardt, naturalis kelahiran Jerman yang kemudian menjadi direktur pertamanya. Tetapi peran kebun ini jauh melampaui botani. Menjelang akhir abad ke-19, di bawah direktur Melchior Treub, Buitenzorg menjelma menjadi stasiun riset tropis paling maju di dunia. Ia meneliti benih, penyakit tanaman, hama, tanah, dan iklim. Pada 1905, dari rahim lembaga inilah lahir Departemen Pertanian Hindia Belanda, cikal bakal banyak institusi yang legasinya kita warisi hingga kini.

Adam menyebut kebun ini sebagai institusi kolonial yang sangat besar, terhubung dengan hampir semua sektor pemerintahan: kehutanan, dinas pertanian, sampai sekolah yang mencetak para pegawainya. Ia bukan hanya taman, melainkan pusat riset dan pengembangan bagi ekonomi kolonial itu sendiri.

Mesin kalkulasi sebuah imperium

Mengapa pengetahuan tentang tumbuhan bisa sepenting itu? Adam menunjukkan satu pola yang mengejutkan: hampir semua imperium besar memiliki kebun rayanya sendiri. Inggris punya Kew Gardens, yang oleh sejarawan Richard Drayton digambarkan sebagai pusat kalkulasi pengetahuan atas seluruh koloni. Dan menurut Drayton, satu-satunya kebun yang levelnya mampu menyaingi Kew adalah Buitenzorg di Bogor.

Logikanya sederhana tetapi menakutkan. Kolonialisme Hindia Belanda bertumpu pada pertanian. Dari mana datang bibit komoditas besarnya? Dari kebun raya dan cabang-cabangnya. Kopi, teh, dan terutama kina diperkenalkan, diuji, lalu disebar dari sini dan dari kebun ekonomi seperti Cikeumeuh. Kina, misalnya, aslinya tumbuhan pegunungan Andes di Amerika Selatan. Ia diintroduksi di kebun pegunungan Cibodas, lalu dipindahkan ke elevasi serupa di Pangalengan. Dari situ industri kina Hindia Belanda tumbuh sedemikian rupa sehingga pada awal abad ke-20 koloni ini disebut memasok sekitar 90 persen kebutuhan kina dunia, obat malaria paling penting pada masanya. Botani menjadi fondasi bagi agrikultur; agrikultur menjadi fondasi bagi ekonomi; dan ekonomi tidak pernah terpisah dari kuasa.

Kuasa yang menanjak

Bagian paling orisinal dari argumen Adam, yang akan ia terbitkan dalam buku Cultivating Power: Botany and Empire in the Dutch East Indies, adalah apa yang ia sebut colonial verticality, kuasa kolonial yang bergerak secara vertikal. Kalau kami membaca sejarah dari sudut pedagang, imperium tampak tumbuh mendatar: dari titik A ke titik B, dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Tetapi para naturalis abad ke-19 justru terobsesi mendaki gunung. Mereka mensurvei Gede, Pangrango, Salak, sampai Tengger, bukan hanya untuk mengklasifikasi tumbuhan, tetapi juga mencatat ketinggian, suhu, dan kualitas tanah.

Mereka meminjam prinsip plant geography dari Alexander von Humboldt: tanaman tertentu hanya tumbuh subur pada ketinggian tertentu. Maka dibangunlah kebun-kebun percobaan berjenjang, dari Cipanas, Cibodas, Ciberem, Kandang Badak, sampai mendekati puncak Pangrango. Menguasai ketinggian berarti mengetahui komoditas apa yang cocok ditanam di mana. Dan karena kopi, teh, serta kina justru menghasilkan di dataran tinggi, kuasa kolonial ikut menanjak. Pos administrasi, jalan, dan pusat pemerintahan baru dibangun mengikuti temuan-temuan ilmiah di lereng gunung. Sains dan kuasa teritorial bergerak beriringan, dari Sumatera Utara, Malang, sampai dataran tinggi Sulawesi.

Sains yang tidak pernah netral

Di sinilah tesis besar diskusi ini menemukan bentuknya: sains tidak pernah sepenuhnya netral. Metodenya boleh diuji terhadap realitas, tetapi ada dua hal yang selalu sarat kepentingan. Pertama, siapa yang menentukan pertanyaannya. Kedua, institusi mana yang berhak mengklaim jawabannya.

Adam mengingatkan bahwa para naturalis Eropa yang mendaki gunung-gunung Jawa tidak datang sebagai penakluk yang serba tahu. Mereka dipandu penduduk lokal, menyusuri jalur yang sudah ada jauh sebelumnya. Masyarakat Sunda dan Jawa telah lama memiliki relasi mendalam dengan gunung. Mereka tidak menyebutnya sains; mereka menyebutnya ziarah, atau nama lain. Bahkan staf lokal di Kebun Raya Bogor, yang tak pernah diberi akses ke universitas, kerap menguasai koleksi, nama-nama tumbuhan, dan instrumen sebaik para doktor dari Eropa. Seorang ilmuwan yang bergabung sekitar 1910-an bahkan mengakui dengan jujur bahwa banyak penemuan sesungguhnya berasal dari staf lokal, meski kreditnya jatuh ke tamu asing. Pengetahuan diproduksi di sini, tetapi otoritasnya mengalir ke Oxford, Cambridge, dan pusat-pusat Eropa lain.

Mau lu membuktikan bahwa pekerjaanmu senetral itu, ia tetap punya relasi dengan kuasa, yang dampaknya bisa jadi menguntungkan satu pihak dan menyengsarakan pihak lain, tanpa kau sadari.

Laboratorium hidup dan pertanyaan yang belum selesai

Ironisnya, Buitenzorg begitu unggul sehingga para ilmuwan Jerman, yang negerinya minim koloni, berdatangan untuk memakainya sebagai laboratorium. Bogor menjadi semacam kiblat para botanis dunia, dengan jurnal-jurnal berkelas global yang terbit dari sana. Ia membuktikan bahwa sebuah pusat pengetahuan bertaraf dunia pernah berdiri kokoh di Jawa. Pertanyaan yang ditinggalkan Adam justru menyakitkan: mengapa kini banyak lembaga riset bersejarah kita, dari kehutanan sampai pertanian yang berakar pada kebun raya ini, justru dibiarkan meredup?

Apa artinya bagi kita

Diskusi ini bukan ajakan membenci masa lalu, melainkan mengubah cara pandang. Selama ini kami cenderung memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang datang dari luar, yang cukup kami pakai tanpa merasa berhak mengembangkannya. Kita nyaris menjadi laboratorium hidup: tempat teori orang lain diuji, lalu hasilnya dibawa pulang ke tempat lain. Sejarah kebun raya memperlihatkan bahwa relasi antara yang menguasai dan yang dikuasai dalam ilmu pengetahuan sesungguhnya bisa dibalik, asalkan kita menyadarinya.

Pelajaran itu terasa nyata hari ini. Ketika kita berdebat soal Jakarta yang tenggelam, tembok laut raksasa, atau banjir yang berulang, kita sering hanya berbelanja solusi dan menyerahkannya kepada pihak yang dianggap lebih paham, tanpa menoleh pada pengetahuan sendiri. Padahal masyarakat Sunda dahulu punya kearifan tata ruang yang berpusat pada air dan mata air, sebuah kepekaan terhadap kekuatan alam yang kini kita lupakan. Tantangannya bukan meromantisasi masa lalu, melainkan mengujinya secara jujur, lalu membangun kembali institusi dan kepercayaan diri kita sendiri. Sebab pada akhirnya, seperti disimpulkan diskusi ini, penjajahan yang sesungguhnya adalah ketika kita berhenti merasa berhak menghasilkan pengetahuan tentang tanah kita sendiri.

Tayangan terkait · Chronicles · Chronicles

Laporan ini disusun IRIS AI berdasarkan dokumen resmi dan pemberitaan terbuka yang kami telusuri. Tayangan publik terkait disematkan sebagai pelengkap, bukan sumber tunggal. Semua pihak yang namanya disebut berhak atas hak jawab.

Pojok Aspirasi Lainnya