Warta NusantaraWarta & Analisis Mingguan
Catatan · Minggu ke-28

BMKG: 83 Zona Musim Masuk Puncak Kemarau Juli, Waspada El Nino, Sebagian Wilayah Masih Siaga Hujan Lebat

Dengarkan artikel
Konteks

Indonesia mengalami dua musim utama, hujan dan kemarau, dan BMKG membagi wilayah negara ke dalam ratusan zona musim untuk memantau kapan tiap daerah memasuki fase tertentu. Pada Juli 2026, 83 zona musim mulai memasuki puncak kemarau, dan puncak nasional diperkirakan jatuh pada Agustus ketika hampir separuh daratan Indonesia berada di fase terkering. Tahun ini kemarau diperkirakan lebih berat karena bersamaan dengan fenomena El Nino, yaitu pemanasan suhu laut Pasifik yang biasanya mengurangi curah hujan di Indonesia. Dampak yang diwaspadai meliputi kekeringan, gangguan produksi pangan, penurunan pasokan air, dan kebakaran hutan dan lahan. Uniknya, sebagian wilayah seperti Sumatra Barat dan Bengkulu justru masih siaga hujan lebat karena posisi geografisnya. Pemerintah pusat dan daerah diminta memakai sisa waktu sebelum Agustus untuk mempersiapkan mitigasi.

Foto: Wikimedia Commons

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengonfirmasi cakupan musim kemarau di Indonesia meluas sejak awal Juli 2026. Sebanyak 83 zona musim, setara 12,26 persen luas daratan Indonesia, diprediksi memasuki puncak kemarau pada Juli. Wilayahnya meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, NTT bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian Maluku, dan beberapa wilayah Papua, termasuk Papua Barat Daya bagian selatan serta Papua bagian timur.

Puncak kemarau nasional diproyeksikan jatuh pada Agustus, ketika 369 zona musim atau 48,84 persen luas daratan memasuki fase terkering, disusul 169 zona musim atau 25,41 persen pada September. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani meminta pemerintah pusat dan daerah memanfaatkan jendela waktu Juli untuk mempercepat kesiapsiagaan, dari pengelolaan air hingga pencegahan kebakaran hutan dan lahan, sebelum tekanan kekeringan mencapai titik tertinggi.

Faktor El Nino: Kemarau Lebih Kering dan Lebih Panjang

Yang membuat kemarau tahun ini menuntut kewaspadaan ekstra adalah fenomena El Nino. BMKG memprediksi El Nino bertahan hingga awal 2027, dengan peluang 98 persen mencapai intensitas moderat dan 62 persen berpotensi menguat ke intensitas kuat. Dampak paling terasa diperkirakan terjadi saat El Nino bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan Oktober. Deputi Bidang Klimatologi Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari rata-rata normalnya, sehingga penghitungan cadangan air dan kalender tanam tidak bisa memakai asumsi tahun biasa.

Anomali: Kemarau Basah di Sebagian Wilayah

Meski kemarau meluas, sebagian wilayah justru berstatus siaga hujan lebat. Peringatan dini 7 Juli menetapkan status siaga untuk Sumatra Barat dan Bengkulu, dengan kewaspadaan angin kencang di 11 wilayah. Warga di daerah yang masih berpotensi hujan deras diminta waspada terhadap banjir, longsor, pohon tumbang, dan gangguan transportasi. Kondisi berbeda arah ini lazim terjadi pada masa transisi, ketika zona musim di pesisir barat Sumatra masih menerima suplai uap air, sementara wilayah selatan dan timur Indonesia sudah mengering.

Suhu udara juga tercatat tinggi pada akhir Juni, berkisar 35 hingga 36,1 derajat Celsius di Aceh, Banten, Lampung, dan sejumlah wilayah Kalimantan. Kombinasi suhu tinggi dan udara kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di lahan gambut yang apinya sulit dipadamkan begitu membakar lapisan bawah permukaan.

Langkah Antisipasi Pemerintah

BMKG merekomendasikan serangkaian langkah adaptasi lintas sektor. Di sektor pangan, penyesuaian jadwal tanam dan penggunaan varietas tahan kekeringan menjadi prioritas agar produksi padi musim gadu tidak tergerus. Di sektor sumber daya air, revitalisasi waduk, perbaikan jaringan distribusi, dan peningkatan kapasitas bendungan perlu dipercepat, termasuk untuk menjaga pasokan pembangkit listrik tenaga air yang debitnya rawan menurun saat kemarau kuat. Untuk pencegahan karhutla, Plt. Deputi Bidang Meteorologi Andri Ramdhani menjelaskan Operasi Modifikasi Cuaca dilakukan secara situasional mengikuti dinamika atmosfer, sehingga penyemaian awan diarahkan ke kantong-kantong rawan pada saat kondisi awan memungkinkan.

Prioritas Mitigasi di Daerah

Tiga prioritas yang perlu dikawal pemerintah daerah: pengamanan pasokan air baku untuk pertanian dan rumah tangga, patroli pencegahan karhutla di provinsi rawan, dan komunikasi risiko yang membedakan wilayah kering dan wilayah yang masih dilanda hujan. Peta risiko yang presisi akan menentukan efektivitas alokasi sumber daya menjelang puncak kemarau Agustus. Dengan hampir separuh daratan Indonesia memasuki fase terkering bulan depan, keberhasilan mitigasi akan sangat bergantung pada kecepatan daerah menerjemahkan peringatan BMKG menjadi tindakan operasional, bukan sekadar surat edaran. Pekan-pekan awal Juli adalah masa persiapan terbaik yang tersisa.

Sumber: BMKG, Detik, CNN Indonesia, RRI

Baca Juga