Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa akhir Juni 2026 sebesar US$145,6 miliar, naik US$700 juta dari US$144,9 miliar pada akhir Mei. Kenaikan dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan operasi stabilisasi nilai tukar yang ditempuh bank sentral merespons tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, posisi tersebut setara pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,4 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. BI menegaskan cadangan devisa itu mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Penyangga eksternal dalam kondisi sehat justru ketika mata uang berada di bawah tekanan.
Membaca Kenaikan Setelah Enam Bulan Tergerus
Kenaikan Juni menjadi penting bila diletakkan dalam tren yang lebih panjang. Dari puncak US$156,5 miliar pada akhir Desember 2025, cadangan devisa terus menyusut hingga US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026, tergerus sekitar US$11,6 miliar dalam lima bulan akibat kombinasi pembayaran utang jatuh tempo dan biaya stabilisasi kurs. Pembalikan arah pada Juni, meski tipis, adalah sinyal pertama bahwa penggerusan itu mulai tertahan. Sumber kenaikannya pun relatif organik, dari penerimaan pajak dan jasa, bukan dari penarikan utang baru.
Rupiah: Tiga Minggu Koreksi
Rupiah mencatat koreksi signifikan pada minggu ketiganya, sempat bertengger di level terendah sebulan dan menjadi mata uang terlemah se-Asia terhadap dolar AS. Pada perdagangan Rabu 8 Juli, kurs bahkan sempat menembus kisaran Rp18.000 per dolar AS bersamaan dengan koreksi tajam di bursa saham. Tekanan bersumber dari kombinasi penguatan dolar global pasca penundaan tarif, arus keluar dari pasar surat berharga, dan permintaan valas korporasi musiman, ditambah sentimen kenaikan harga minyak akibat eskalasi kembali ketegangan di Timur Tengah.
Kenaikan cadangan devisa di tengah operasi stabilisasi menunjukkan BI belum menguras amunisi: intervensi dilakukan terukur sambil membiarkan kurs menyerap sebagian tekanan. Pendekatan ini menjaga daya saing ekspor, meski menambah beban imported inflation jika berlarut. Pilihan untuk tidak melawan pasar secara frontal juga konsisten dengan pengalaman banyak bank sentral kawasan: membakar cadangan demi mempertahankan level kurs tertentu kerap berakhir dengan cadangan terkuras tanpa kurs yang berhasil dipertahankan.
Ruang Kebijakan
Dengan inflasi masih dalam sasaran dan devisa tebal, BI punya ruang mempertahankan suku bunga sambil mengandalkan instrumen stabilisasi pasar. Bank sentral sendiri menilai ketahanan sektor eksternal akan tetap terjaga, ditopang aliran masuk modal asing yang sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional. Risiko yang perlu diwaspadai adalah persistensi arus keluar jika selisih imbal hasil dengan AS menyempit lebih lanjut, karena pada titik itu tekanan tidak lagi bersifat musiman melainkan struktural.
Peta risiko eksternal pekan-pekan ke depan setidaknya memuat tiga variabel: arah dolar global menjelang tenggat tarif 1 Agustus, harga minyak yang kembali bergerak naik, dan besaran arus keluar dari pasar surat berharga negara. Ketiganya berada di luar kendali otoritas domestik, sehingga yang bisa dikelola adalah bantalannya: kecukupan devisa, kredibilitas kebijakan moneter, dan kedalaman pasar valas domestik.
Bagi dunia usaha, pesan praktisnya: volatilitas kurs pekan-pekan ini lebih baik dihadapi dengan lindung nilai ketimbang menunggu pembalikan cepat, karena sumber tekanannya bersifat global dan belum menunjukkan tanda mereda. Korporasi dengan kewajiban valas jatuh tempo kuartal ketiga sebaiknya mengunci kebutuhan dolarnya lebih awal, sementara eksportir justru dapat memanfaatkan level kurs saat ini untuk memperkuat posisi kas rupiah.
Sumber: Bank Indonesia, Antara, Republika, Kontan, Kompas.com