Perdana Menteri India Narendra Modi menuntaskan kunjungan kenegaraan dua hari di Jakarta pada 6-8 Juli 2026 atas undangan Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan bilateral di Istana Merdeka pada 7 Juli menghasilkan 16 dokumen kerja sama, menjadikan lawatan ini salah satu yang paling produktif sejak Kemitraan Strategis Komprehensif ditandatangani pada 2018. Bobot politik kunjungan terlihat sejak menit pertama: Presiden Prabowo menyambut Modi langsung di bawah tangga pesawat, penghormatan yang tidak diberikan kepada semua kepala negara sahabat, sekaligus membalas lawatan Presiden Prabowo ke India pada Februari 2026.
Cakupan kesepakatan melintasi sektor politik, ekonomi, keamanan, pendidikan, kesehatan, energi, hingga kebudayaan. India menyatakan siap memasok obat-obatan dan benih gandum ke Indonesia, sementara kerja sama pendidikan tinggi dikukuhkan lewat nota kesepahaman KEK Singhasari, melalui PT Intelegensia Grahatama, dengan Indian Institute of Management Bangalore. Kedua pemimpin juga menjajaki pertukaran teknologi energi nuklir untuk kebutuhan damai, agenda yang bila berlanjut akan menambah opsi bauran energi nasional jangka panjang.
Enam Belas Dokumen, Satu Arah Kemitraan
Dokumen yang diumumkan di hadapan kedua pemimpin, antara lain ditandatangani Kepala BRIN Arif Satria dan Sekretaris Luar Negeri India Vikram Misri, mencakup spektrum yang luas:
- Perpanjangan kerangka kerja sama BRIN dengan ISRO untuk eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa bagi tujuan damai.
- Perpanjangan protokol keamanan maritim serta kerja sama penanggulangan bencana.
- Kerja sama mineral, material nonferrous, dan teknologi rantai pasok baja, termasuk penjajakan usaha patungan SAIL dengan Krakatau Steel.
- Kolaborasi tenaga kesehatan, regulasi produk obat-obatan, pertanian, serta telekomunikasi.
- Kerja sama manajemen dan teknologi kepemiluan, riset dan inovasi, serta pendidikan tinggi.
- Kontrak sistem pertahanan rudal BrahMos dan kerja sama rudal udara-ke-udara.
- Pernyataan niat konservasi Kompleks Candi Prambanan di Yogyakarta.
Pertahanan: Lompatan Paling Konkret
Kesepakatan bernilai terbesar datang dari sektor pertahanan: kontrak pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos senilai sekitar 630 juta dolar AS antara Kementerian Pertahanan dan BrahMos Aerospace, mencakup sistem rudal, infrastruktur pendukung, pelatihan operator, dan layanan pemeliharaan. Bharat Dynamics Limited juga meneken kerja sama pengadaan rudal udara-ke-udara dengan Republikorp. Dengan kontrak ini Indonesia menyusul Filipina sebagai operator BrahMos di Asia Tenggara, langkah yang memperkuat deterensi maritim di tengah dinamika Laut China Selatan.
Fondasi keamanan tidak berhenti pada alutsista. Kedua negara meneruskan mekanisme India-Indonesia Security Dialogue yang telah memasuki putaran ketiga, mencakup pengembangan teknologi pertahanan dan penanggulangan kejahatan lintas negara, kerangka yang membuat kerja sama keamanan berjalan melembaga, tidak bergantung pada momentum kunjungan kepala pemerintahan semata.
Konektivitas dan Kebudayaan
Presiden Prabowo menyatakan dukungan pada pengembangan pelabuhan di Kepulauan Andaman dan Nikobar untuk memperkuat konektivitas kedua negara, poros maritim yang menghubungkan Aceh dengan wilayah India yang hanya terpaut sekitar 150 kilometer dari Sabang. Bila terealisasi, jalur ini membuka rute logistik baru di pintu barat nusantara sekaligus mengikat kepentingan kedua negara di Samudra Hindia.
Di ranah kebudayaan, Indonesia menyambut rencana restorasi Kompleks Candi Prambanan, situs warisan dunia UNESCO, yang dituangkan dalam pernyataan niat resmi kedua pemerintah. Diplomasi candi ini melengkapi fondasi hubungan yang berakar pada pertalian peradaban, aspek yang membuat kemitraan RI-India punya kedalaman yang tidak dimiliki banyak kemitraan strategis lain.
Sebagaimana diingatkan sejumlah pengamat, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah tinta kering. Enam belas dokumen adalah modal politik yang besar, namun ukurannya kelak bukan jumlah nota kesepahaman melainkan kecepatan realisasi di lapangan: pengiriman rudal, groundbreaking usaha patungan baja, dan dimulainya pemugaran Prambanan. Pemerintah sudah berada di jalur yang tepat dengan menjadikan kemitraan India sebagai salah satu poros Indo-Pasifik; konsistensi tindak lanjut antarkementerian akan menentukan apakah babak baru ini benar-benar terasa hasilnya.
Sumber: ANTARA, Kompas, Tempo, Sekretariat Presiden