Indonesia resmi tampil sebagai Official Partner Country pada Innoprom 2026, pameran industri internasional terbesar kawasan Eurasia yang berlangsung 6-9 Juli di Yekaterinburg, Rusia. Presiden Prabowo Subianto hadir memenuhi undangan langsung Presiden Vladimir Putin yang disampaikan saat pertemuan Kremlin pada April lalu, didukung 50 delegasi industri nasional. Status ini menjadikan Indonesia satu-satunya negara yang mendapat panggung kehormatan pameran tahun ini, sebuah posisi yang oleh kantor berita TASS disebut sebagai penanda naiknya bobot kemitraan industri kedua negara.
Status mitra resmi memberi Indonesia panggung utama pameran: paviliun nasional, sesi bisnis khusus, dan akses ke jejaring industri negara-negara Uni Ekonomi Eurasia. Ini kelanjutan dari rangkaian kesepahaman ekonomi dan industri yang dibangun kedua presiden sejak pertemuan Desember 2025, mencakup bidang energi, teknologi, investasi, dan pengembangan industri.
Yang Dibidik dari Yekaterinburg
Partisipasi ini membidik empat hal: peluang investasi industri baru, kolaborasi ko-produksi dan manufaktur bersama, perluasan akses pasar produk manufaktur Indonesia ke kawasan Eurasia, dan penguatan posisi Indonesia sebagai mitra industri strategis bagi Rusia dan anggota EAEU. Kementerian Perindustrian menjabarkannya ke dalam empat pintu kerja sama yang ditawarkan kepada investor Eurasia: kemitraan teknologi di bidang permesinan, otomasi, dan petrokimia; investasi langsung di kawasan industri yang sudah beroperasi; pembangunan rantai pasok hilirisasi komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, kobalt, dan litium; serta kolaborasi agroindustri bernilai tambah.
Di paviliun nasional, delegasi memperkenalkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN), peta jalan industri yang diarahkan menjawab pergeseran ekonomi global, dari digitalisasi hingga transisi energi, sekaligus menopang visi Indonesia Emas 2045. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan Indonesia menawarkan potensi pasar yang besar dengan peta jalan pembangunan industri yang jelas dan terukur. Klaim itu berpijak pada fondasi yang nyata: nilai tambah manufaktur Indonesia mencapai sekitar 265 miliar dolar AS, peringkat ke-13 dunia, dengan ekspor nonmigas yang menyumbang sekitar 80 persen total ekspor nasional.
Bagi industri nasional, pasar EAEU menawarkan ceruk yang belum tergarap optimal: dari komponen otomotif hingga produk agroindustri. Perundingan Indonesia-EAEU Free Trade Agreement yang telah diselesaikan menjadi kerangka yang memudahkan tindak lanjut komitmen bisnis dari pameran ini, karena hambatan tarif yang selama ini menahan produk manufaktur Indonesia masuk kawasan itu akan berangsur turun.
Hasil Awal yang Dapat Diukur
Misi Yekaterinburg tidak pulang dengan tangan kosong. Sepanjang pameran, delegasi Indonesia membukukan 13 nota kesepahaman industri dengan mitra Rusia dan kawasan Eurasia. Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kemenperin Tri Supondy menyebut sasaran jangka panjangnya adalah memantapkan posisi Indonesia sebagai mitra industri jangka panjang bagi kawasan Eurasia, bukan sekadar peserta pameran musiman.
Menimbang Risiko, Menjaga Keseimbangan
Kehadiran presiden di panggung industri Rusia di tengah rezim sanksi Barat menuntut kalkulasi cermat. Pola yang dipilih Jakarta sejauh ini konsisten: kerja sama ekonomi berjalan tanpa aliansi politik, sebagaimana kunjungan Modi ke Jakarta berjalan pekan yang sama tanpa dibaca sebagai keberpihakan blok. Pemerintah tampak sadar bahwa nilai diplomasi ekonomi semacam ini justru terletak pada kemampuannya berjalan di banyak panggung sekaligus, dan disiplin memilah transaksi yang aman dari paparan sanksi sekunder menjadi pekerjaan teknis yang tidak boleh diserahkan pada semangat politik semata.
Ukuran keberhasilan misi ini sederhana: berapa banyak dari komitmen forum bisnis Yekaterinburg, termasuk 13 nota kesepahaman tersebut, yang menjadi kontrak investasi riil dalam dua belas bulan ke depan. Tanpa tindak lanjut teknis lintas kementerian, dari fasilitasi pembiayaan hingga penyelesaian hambatan logistik dan sistem pembayaran, status mitra resmi hanya akan menjadi catatan protokoler. Sebaliknya, bila satu saja proyek ko-produksi manufaktur terwujud di kawasan industri dalam negeri, Innoprom 2026 akan tercatat sebagai pintu masuk pasar Eurasia yang selama ini nyaris tak tersentuh eksportir nasional.
Sumber: ANTARA, Kementerian Perindustrian, TASS
