Warta NusantaraWarta & Analisis Mingguan
Diskursus · Investigasi

Agen CIA Palsu di Lingkaran Prabowo: Bagaimana Gaurav Srivastava Menyusup dan Menjanjikan Kontrak Pertahanan Miliaran Dolar

Seorang pengusaha India diduga mengaku sebagai agen CIA untuk masuk ke keluarga paling berkuasa di Indonesia. Kami merangkai kronologinya dari investigasi Tempo dan dokumen gugatan di Amerika.

Foto: Tempo

Dengarkan artikel

Bayangkan seseorang datang ke lingkaran orang paling berkuasa di sebuah negara, memperkenalkan diri sebagai agen dinas rahasia Amerika, lalu dalam hitungan bulan ikut membicarakan pembelian pesawat tempur senilai belasan miliar dolar. Kisah itu bukan skenario film. Menurut investigasi Tempo yang terbit akhir Juni 2026 dan sejumlah gugatan perdata di Amerika Serikat, sosok bernama Gaurav Srivastava diduga melakukannya di Indonesia, dengan sasaran keluarga dan jaringan bisnis Presiden Prabowo Subianto. Kami menyusun ulang kronologinya secara runtut.

Siapa Gaurav Srivastava

Gaurav Srivastava adalah seorang pengusaha berdarah India yang, menurut gugatan perdata yang diajukan mantan mitra bisnisnya, kerap menampilkan diri sebagai orang dalam Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA. Klaim itu, bila benar, adalah kunci yang membuka banyak pintu. Sebuah negara yang tengah membenahi alat pertahanannya akan menaruh perhatian besar pada seseorang yang mengaku bisa menjadi jembatan ke Washington. Perlu dicatat sejak awal bahwa Srivastava membantah keras tuduhan ini, dan sampai kini belum ada putusan pengadilan yang menyatakannya bersalah.

Jalan masuk ke lingkaran Prabowo

Menurut penelusuran Tempo dan lembaga jurnalisme investigasi OCCRP, Srivastava membangun kedekatan dengan Prabowo Subianto yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan, serta dengan adik Presiden, Hashim Djojohadikusumo, yang memimpin Arsari Group. Pada 2020 ia disebut ikut dalam pertemuan tingkat tinggi di Washington dan Jakarta yang membahas pengadaan alat militer. Salah satu jejak yang paling terlihat adalah sebuah foto di Kedutaan Besar Indonesia di Washington pada Oktober 2020, yang memperlihatkan Srivastava berdampingan dengan Prabowo.

Kedekatan itu penting karena akses adalah segalanya dalam urusan kontrak pertahanan. Begitu seseorang diterima di ruang-ruang pertemuan resmi, ia tidak lagi tampak sebagai orang luar, melainkan bagian dari rombongan.

Janji kontrak pertahanan miliaran dolar

Antara 2020 dan 2022, perusahaan-perusahaan yang dikendalikan Srivastava disebut mengantongi lima kesepakatan awal dengan pemerintah Indonesia. Nilai dan cakupannya tidak main-main:

  • 36 unit pesawat tempur F-15, yang menurut pengumuman pihak Amerika bernilai sekitar 13,9 miliar dolar AS.
  • Helikopter UH-60 Black Hawk.
  • Pesawat angkut C-130.
  • Pusat komando dan kendali operasi gabungan.

Yang perlu digarisbawahi, Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa dokumen-dokumen itu bersifat pendahuluan, "bukan kontrak yang mengikat", dan tidak satu pun berujung pada pembelian yang benar-benar terjadi. Fakta lain memperkuat kecurigaan: keempat perusahaan yang menampung kesepakatan itu adalah perusahaan cangkang tanpa pengalaman di bidang pengadaan pertahanan, dan belakangan dicabut status hukumnya karena menunggak pajak.

Skema di balik gugatan Niels Troost

Kisah ini terbongkar sebagian besar lewat gugatan seorang pedagang minyak asal Belanda, Niels Troost, di pengadilan California dan New York. Troost mengaku diyakinkan bahwa Srivastava adalah "operator CIA yang punya banyak koneksi", sampai ia menyerahkan setengah kepemilikan perusahaannya. Berikut inti tuduhan dalam gugatan itu:

  1. Srivastava disebut mengatur pinjaman senilai 51 juta dolar AS dari perusahaan mereka kepada Arsari Group.
  2. Pinjaman itu diklaim untuk membiayai "program rahasia pemerintah Amerika".
  3. Sekitar separuh dana, yaitu 25 juta dolar AS, kemudian dialihkan kepada Srivastava sendiri.
  4. Uang itu, menurut gugatan, dipakai membeli rumah mewah di Los Angeles.

Gugatan Troost menyertakan rekaman percakapan telepon yang, menurutnya, memperlihatkan Srivastava mengaku bekerja untuk CIA. Rekaman inilah yang menjadi salah satu bukti kunci di persidangan perdata.

Bantahan dan penyelidikan yang berjalan

Srivastava menolak seluruh tuduhan. Di situs pribadinya, ia menyebut tudingan bahwa dirinya berpura-pura menjadi agen CIA sebagai "rekayasa kasar" yang disebarkan oleh Troost, mantan mitranya yang pernah terkena sanksi karena berdagang minyak Rusia. Dengan kata lain, ini masih berupa perang klaim di ranah perdata, bukan vonis pidana.

Di dalam negeri, otoritas pencegahan pencucian uang menyatakan tengah menelusuri transaksi yang mengalir ke Arsari Group, dan akan meneruskan temuannya ke aparat penegak hukum bila ditemukan pelanggaran. Sikap resmi dari pihak keluarga Presiden atas dugaan ini menjadi bagian yang layak ditunggu publik.

Apa artinya bagi Anda

Terlepas dari bagaimana akhir kasusnya nanti, cerita ini menyorot satu titik rawan yang menyangkut kita semua: betapa mudahnya seseorang dengan klaim yang tidak terverifikasi masuk ke ruang pengambilan keputusan strategis, termasuk urusan pertahanan yang dibiayai uang rakyat. Pengadaan alat militer melibatkan angka raksasa, sehingga proses seleksi mitra dan verifikasi latar belakang semestinya berlapis dan ketat.

Sebagai catatan yang adil, seluruh uraian di atas bersumber dari investigasi jurnalistik dan gugatan perdata yang belum berkekuatan hukum tetap. Gaurav Srivastava berhak atas praduga tak bersalah, dan pihak-pihak yang disebut berhak memberikan penjelasan. Yang menjadi kepentingan publik adalah agar dugaan sebesar ini ditelusuri secara terbuka dan tuntas.

Sumber UtamaTempo · Investigasi Behind the BlackoutBaca investigasi lengkap →

Laporan ini dirangkum IRIS AI dari investigasi jurnalistik dan dokumen gugatan yang bersifat terbuka. Uraian di dalamnya masih berupa dugaan yang belum berkekuatan hukum tetap. Semua pihak yang namanya disebut berhak atas praduga tak bersalah dan hak jawab.

Diskursus Lainnya